"STEINWAY FAMILY STORY" Dwiki Dharmawan ‘Ibu Berperan Penting untuk Saya’

DWIKI DHARMAWAN. Siapa yang tak kenal dengan musisi ini. Namanya sering dikaitkan dengan Krakatau, sebuah kelompok musik yang merajai panggung jazz rock Indonesia di era ’80 an hingga awal tahun 2000-an. Bersama Pra Budi Dharma, Donny Suhendra, serta Budhy Haryono, Krakatau menjelajahi kota-kota besar dunia, menyuguhkan paduan jazz dengan musik tradisional Indonesia. Gaya bermusik Dwiki dan Krakatau ini kemudian menjadi inspirasi bagi munculnya kelompok-kelompok jazz tanah air yang mengeksplorasi kekayaan musik etnik Indonesia ke dalam improvisasi jazz

Sejak terbentuk tahun 1984, Krakatau beberapa kali berganti personel. Tetapi gaya bermusiknya tidak berubah. Kenapa?
Karena kita konsisten dengan pilihan warna musiknya. Konsistensi itulah kuncinya. Sejak awal, saya memilih jazz sebagaiaktualisasi musikalitas kita. Tetapi bukan jazz yang semata- mata hasil impor dari luar, melainkan jazz yang diberi warnake-Indonesiaan. Musik etnik kita luar biasa kaya dan melimpah. Dan menjadi unik ketika dikolaborasi dengan jazz yang menyediakan improvisasi tak terbatas. Dalam perjalanannya kami pernah beberapa ganti personel. Formasi awaladalah saya, Pra Budi Dharma, Donny Suhendra, dan Budhy Haryono. Di formasi kedua masuk Indra Lesmana, Gilang Ramadhan dan Trie Utami. Dan formasi terakhir adalah saya, Pra,Nya Ina Raseuki, Ade Rudiana, Yoyon Dharsono, Zainal Arifindan Gerry Herb

Benarkah jazz aliran musik yang eksklusif?
Tidak juga. Bahkan jazz itu menurut saya lebih merakyatkarena sangat banyak mengadopsi budaya lokal. Jazz sendiriawalnya berasal dari suara jeritan hati budak-budak Afrika yang dibawa ke Amerika. Para budak tersebut dipekerjakan diperkebunan. Jeritan hati mereka kemudian berkembang menjadi aliran musik blues, sebagai akar jazz.

Sebenarnya sejak kapan mas Dwiki belajar musik?
Saya mulai belajar musik klasik di usia 7 tahun sebelumakhirnya tertarik mempelajari musik jazz pada usia 13 tahun.Ini sebuah transisi yang membuat saya mengetahui ternyata musik itu sangat luas dan indah.

Siapa sosok yang berperan penting dalam proses belajarmusik mas Dwiki?
Pertama, ibu saya. Kedua, guru-guru saya, khususnya almarhum Elfa Secioria. Sejak kecil, Ibu sudah mengenalkansaya dengan musik. Beliau seniwati. Saya ingat, ibu seringmengajak saya bermain ke Institut Seni Budaya IndonesiaBandung atau ISBI, yang terletak tidak jauh di belakang rumahkami. ISBI adalah perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan  pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjanadalam bidang seni dan budaya. Di tempat itulah, saya seringmendengarkan irama angklung, gamelan, dan melihat berbagai tarian nasional yang diperagakan mahasiswa ISBI

Bagaimana mas Dwiki mengenal piano?
Awalnya saya tidak tertarik ke piano. Saya lebih senang mendengarkan gamelan Sunda. Sejak kecil saya ini sebenarnya pemalu. Introvert. Saya memiliki masalah dengan tangan dan jari-jari. Gerakan motorik tangan dan jari-jari sayalemah. Kalau memegang sesuatu gak bisa lama-lama, pasti terlepas dan jatuh. Ibu memberi saya mainan Squash, sejenis gelyang lentur dan meminta saya agar meremas-remas Squash itusetiap hari untuk memperkuat motorik di jari-jari saya. Namunhal itu tidak banyak membantu, sampai suatu hari ibu menghadiahkan saya sebuah piano upright. Saat itu hanya untuk terapi jari-jari saya yang lemah.

Ibu mengajari mas Dwiki bermain piano?
Betul. Beliau memberi beberapa lagu dan saya diminta berlatih setiap hari. Beberapa waktu kemudian ibu memeriksakan sayake dokter untuk melihat hasil terapinya, dan ternyata doktermenyatakan bahwa terdapat kemajuan luar biasa dimana gerakan motorik jari-jari saya jauh lebih kuat dari sebelumnya.Sejak itu ibu mengarahkan saya belajar piano, sekitar usia 7 tahun waktu itu. Beliau menginginkan saya jadi pianis karenabegitu besar kecintaannya akan musik. Padahal saya kepinginnya jadi diplomat hahaha....

Setelah belajar piano, apakah jari-jarinya masih bermasalah?
Walhasil kini tangan dan jari-jari saya nggak ada masalah lagi.Tapi sampai sekarang saya tidak bisa menulis dengan baik.Tulisan saya masih saja jelek banget hahaha...apalagi kalau nulis not balok, ampun deh...hanya Tuhan yang tahu tulisannyahahaha...

Berapa jam mas Dwiki menghabiskan waktu untuk latihan?
Saya orang yang lebih dipengaruhi mood. Saya berlatih setiaphari. Tapi kalau lagi gak mood, ya gak latihan. Tapi sekali sayamood, sehari bisa lima kali latihan, dan setiap latihan bisa satusampai 2 jam. Dan kalau saya sedang latihan, saya gak maudiganggu. Suasana juga harus tenang. Tapi yang harus diingat,latihan itu bukan hanya ketika dalam proses belajar. Sampai saatini saya masih tetap berlatih. 

Awalnya belajar musik klasik. Bagaimana ceritanya bisa pindah ke jazz?
Saya beruntung ibu saya memperkenalkan beragam jenis musiksejak dini. Ini mempengaruhi konsepsi saya terhadap musik.Sejak kecil saya memainkan banyak repertoire mulai dari Beethoven, Mozart, Chopin sampai pada Rachmaninoff danStravinsky. Saya juga menyukai Gershwin dan komposer kontemporer lainnya.Tapi ketika saya belajar jazz dengan mas Elfa, sejak itu saya merasakan perubahan orientasi musik yang luarbiasa. Titik balik atas peralihan genre musik ini juga dipengaruhioleh seringnya saya mendengarkan karya-karya musisi jazz kenamaan seperti John Coltrane, Charlie Parker, Orkestra GlennMiller Joe Zawinul dan Mahavishnu Orchestra. 

Sebenarnya apa yang mendasari konsep musik Krakatau?
Semua berawal dari kegelisahan atas adanya batasan-batasan diindustri musik yang terasa mengikat. Ada semacam komersialisasi musik yang membonsai kreatifitas. Semua diatur pasar danharus ikut apa kata pasar. Terus terang saya gelisah saat itu.Dalam kreatifitas bermusik, seharusnya tidak ada batasan-batasan itu. Saya bisa saja membikin lagu sebanyak-banyaknya,lalu menjualnya untuk mendapatkan uang. Tapi jika demikian,maka apa bedanya saya dengan kuli. Sejak awal merintis karirmusik, saya memilih jalan tak biasa. Menekuni jazz danmemadukannya dengan aneka musik tradisional. Pilihan inimungkin tak populer di era saat Krakatau lahir. 

Tapi kan gaya musik Krakatau hingga kini tetap bertahandan diterima masyarakat?
Ya karena kita konsisten dengan pilihan yang dibuat. Sejak awalKrakatau mengusung jazz progresif, tetapi dengan berbasis padabudaya dan tradisi Indonesia, terutama dari musik etniknya.Banyak orang yang menyerah dan kalah atas pilihan yangdibuat, bukan karena mereka tak mampu, tetapi karena tidakkonsisten. Improvisasi dalam jazz itu liar dan nyaris tak adabatasnya. Tetapi jika itu “dibumikan” dengan tradisi Indonesia,maka keliaran itu sesuatu yang indah dan bisa diterima,dinikmati, karena menjadi bagian dari diri kita. Musik Krakataujuga terinspirasi dari kehidupan nyata, interaksi langsung dengan masyarakaat, dan itu kemudian melahirkan inspirasi. 

Dalam pengajaran musik, sejauh mana konsistensi itu bisa diterapkan?
Dalam proses belajar musik, yang terpenting tetapkan dulu tujuan yang jelas, lalu ikuti proses dengan sungguh-sungguh. Jangan mudah putus asa, dan tetap disiplin dalam berlatih. Jangan pikirkan kelak jadi apa, sebab proses itulah yang nanti akan menentukan. 

Di luar musik, kelihatannya mas Dwiki juga sibuk? 
Saya membantu pemerintah mempromosikan kebudayaan danpariwisata Indonesia ke seluruh dunia, juga menggelar konseramal untuk penggalangan dana bagi korban bencana alam. Diluar itu saya juga menjabat sebagai Ketua Lembaga ManajemenKolektif (LMK) Pappri dan Ketua Yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards). 

Belum lagi mengurus sekolah musik Farabi ya mas?
Hahaha...ya begitulah. Sekolah musik ini merupakan misiedukasi saya untuk mendidik dan menghadirkan talenta-talentamusik di tanah air. Saya tidak terlalu memikirkan kapan modalnya bisa kembali. Bagi saya, yang terpenting passion belajarmusik bagi anak-anak muda itu tetap ada. Mengasah bakat generasi muda agar menjadi generasi yang penuh talenta, jauh lebihpenting. Saya berharap, dari sekolah musik saya akan munculanak-anak muda yang kreatif.

Bagaimana pandangan mas Dwiki terhadap perkembangan dunia edukasi musik di tanah air saat ini?
Sangat menggembirakan. Banyak sekolah musik bermunculan,banyak guru musik lulusan luar negeri yang kembali dan mengajar di Indonesia, dan tumbuhnya minat orangtua memberikanpengalaman belajar musik kepada anak-anaknya seiringmunculnya kesadaran memberikan pendidikan musik sejak usiadini untuk kecerdasan otak. Dan satu hal lagi, saat ini makinmudah mendapatkan alat-alat musik berkualitas. Dulu setiapkali saya konser kepingin sekali pakai piano Steinway, tapiwaktu itu susah dan nggak mungkin dapet. Sekarang, kitabisa dengan mudah mendapatkan piano Steinway yangterkenal berkualitas itu. Artinya, situasi dan kondisi saat inisebenarnya sangat mendukung dunia pengajaran musik dengantersedianya tiga hal penting. Pertama, anak-anak yang berbakat.Kedua, guru-guru yang berkompeten, dan ketiga, alat musikyang berkualitas

Secara spesifik bagaimana penilaian mas Dwiki terhadap Steinway Piano?
Steinway Grand Piano bagi saya sempurna sekali. Tidak hanyakarena mampu mentransfer spirit dan enerji musikal saya menjadi sebuah bunyi yang indah, tetapi juga sempurna memproduksi suara yang sesuai dengan imajinasi saya sebagai pianis.Tentunya ini berkat pengalaman dan keahlian yang luar biasa dibalik Grand Piano Steinway yang secara konsisten selalumenuju suatu kesempurnaan 

Sebenarnya, apa arti musik bagi mas Dwiki ?
Pada titik yang tertinggi, musik bagi saya adalah sebuah jalanmenuju pengabdian kepada Tuhan. Dengan musik membuatkita bisa melakukan berbagai hal positif. Misalnya mengajak orang terlibat dalam perdamaian. Dengan musik juga Tuhanmembawa saya untuk berbakti pada negara dengan jadi seorangduta budaya. Dengan cara ini saya bisa melakukan diplomasi diplomasi sesuai dengan kapasitas saya. Sesungguhnya sejakkecil memang saya bercita-cita jadi diplomat. Tetapi rupanyamusik menuntun saya menjadi duta budaya, duta jazz. Jadi, inijadi diplomatnya terasa spesial hahaha.....

Di acara online “Steinway Talks Session” 10 Oktober 2020 nanti, apa saja yang akan mas Dwiki sampaikan?
Saya akan berbagi tentang musik dan dunia pendidikan musik serta perjalananan dan pengalaman menjadi Jazz Ambassador. Saya akan ditemani Rudy Zulkarnain, pemain acoustic bass. Semoga pengalaman saya, bisa membuka wawasan lebih luas bagi siapa saja yang belajar dan bergelut di musik. Menjadi inspirasi untuk berani mencoba sesuatu yang baru, berpikir out of the box, optimistis dan konsisten dengan apapun pilihan kita.

Baik mas Dwiki. Terimakasih atas waktunya.

Sumber: Majalah Staccato Edisi Oktober 2020