STEINWAY FAMILY STORY ’Saya Merasa Berada dalam Mimpi Saya’

"Efek Lang Lang" yang menyebar ke seluruh dunia sejak dia tampil di hadapan miliaran penonton pada pembukaan Olimpiade Beijing tahun 2008, telah menginspirasi jutaan anak Tiongkok dan di seluruh dunia untuk belajar piano klasik. Apa yang diraih Lang Lang saat ini adalah puncak dari impiannya sejak pertamakali belajar piano di usia 3 tahun. Sebuah hasil dari perjuangan yang berat dan melelahkan. Berikut bagian pertama kompilasi wawancara Rosanna Greenstreet dari The Guardian dan Friedrich Kuhndari The Focus

Saat bermain di pembukaan Olimpiade Beijing tahun 2008, diperkirakan 40 juta orang China menonton Anda di TV. Apakah ini momen sangat berharga bagi Anda?
Tentu saja. Saya merasa seperti sedang bermain dengan semesta. Ini adalah acara terbesar yang pernah diselenggarakan di Tiongkok. Seluruh dunia menonton. Itu malam yang luar biasa bagi saya, terutama karena ide utama pertunjukan ini adalah untuk mewakili generasi baru abad 21

Ayah Anda musisi, dan memiliki ambisi menjadikan putranya seorang pianis besar. Bagaimana Anda melihatnya?
Sungguh beruntung. Untuk menjadi seorang pianis, Anda benar-benar perlu berlatih dengan sangat keras. Sayangnya ini bukanlah sesuatu yang bisa kita hindari. Tetapi untungnya saya memiliki seseorang yang mendorong saya, tidak setiap hari tetapi kadang-kadang, ketika saya tidak ingin berlatih.

Pada awalnya, musisi berlatih karena tekanan orangtuanya. Ketika mereka berusia sepuluh atau sebelas tahun, motivasi mulai datang dari dalam. Anda bagaimana?
Sejak awal saya sangat menyukai piano. Tetapi bagi seorang anak, sulit ketika Anda melihat anak-anak lain bersenang-senang, bermain sepak bola atau berlibur. Sebagai pianis, Anda tidak bisa bermain basket, olahraga yang sangat saya sukai. Olahraga kompetitif  terlalu berbahaya untuk tangan. Jadi, Anda harus merelakan banyak hal. Ini tentu saja pengorbanan, dan terkadang Anda bertanya pada diri sendiri apakah itu layak atau tidak

Konon, ayah Anda pernah meminta Anda bunuh diri?
Hahaha...benar. Saya ingat itu ketika saya berusia sembilan tahun. Empat tahun sebelumnya, ayah telah memutuskan bahwa saya, putra satu-satunya ini, harus menjadi pianis klasik nomor satu di Tiongkok. Dia melepaskan pekerjaannya sebagai polisi dan membawa saya ke Beijing, meninggalkan ibu, dan berencana memasukkan saya ke Beijing Central Conservatory of Music. Namun, guru saya di Beijing yang saya juluki Profesor Angry karena suka marah, punya ide lain. Dia tidak suka  dengan saya dan dia selalu menyulitkan saya, sampai suatu sore dia berkata bahwa saya tidak memiliki bakat, saya tidak boleh bermain piano dan saya harus pulang kembali ke Shenyang. Pada dasarnya, dia memecat saya bahkan sebelum saya bisa masuk ke konservatori! Mendengar hal itu luar biasa respon ayah. Dengan marah, saya diminta bunuh diri saja. Sangat sulit untuk dibicarakan. Semuanya hancur. Ayah memberi sebuah botol sambil berkata,  “Ambil dan minum pil ini!"  Saya sedih, dan berlari ke balkon menjauh darinya. Ayah berteriak, "Kalau begitu lompat dan mati". Saya benar-benar gila saat itu. Saya  memukuli tembok, mencoba menghancurkan tangan saya. Saya benci segalanya: ayahku, piano, dan diri saya sendiri. Ayah keluar rumah. Setelah itu saya tidak ingin bermain piano lagi. 

Bagaimana situasi setelah kejadian itu?
Hubungan dengan ayah mencapai titik terendah. Selama tiga bulan saya tidak menyentuh piano. Kami tetap tinggal di Beijing, saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena kalau harus pulang ke Shenyang akan membuat kami malu. Kami tinggal di kamar sewaan di daerah kumuh di Beijing, tempat lima keluarga berbagi satu wastafel dan satu toilet. Kamar kami dilengkapi piano dan tempat tidur susun. Kami menyewa tempat termurah di lingkungan yang buruk. Dindingnya tipis, hampir seperti kertas, dan para tetangga marah karena saya berlatih pukul 5 pagi. Mereka akan memukul pintu kami dan saya takut akan dipukuli. 

Titik balik seperti apa yang membuat Anda kembali menemukan momentum?
Suatu hari di sekolah, teman-teman meminta saya memainkan Mozart. Saya tertawa, dan saya berkata, tidak. Saya tidak akan bermain piano lagi. Lalu mereka memberi saya score dan memaksa saya memainkannya. Saya pun mulai memainkannya. Mereka bertepuk tangan, dan terus bertepuk tangan. Saat itu saya menyadari bahwa saya sebenarnya suka bermain piano. Jadi saya pulang dan memberi tahu ayah saya, 'Ayah, carikan saya guru lain, saya ingin bermain lagi.'  Sejak itu dimulailah latihan intensif selama 19 bulan saat dimana ayah dan saya melipatgandakan upaya agar saya bisa diterima di konservatori. Ketika berusia 10 tahun saya  diterima dengan beasiswa penuh dan kami meneruskan tinggal Beijing sampai berusia 15 tahun, dan kemudian berangkat ke Amerika melanjutkan studi di Philadelphia.

Adakah perubahan saat berada di Amerika?
Ketika kami datang ke Amerika, ayah saya melihat bahwa sistem Amerika jauh lebih santai. Saat itu dia mengatakan masih percaya dengan cara orang Tionghoa. Tapi, saat kami bertemu musisi berbeda dari negara berbeda, pendapatnya berubah. Bahkan mampu mengubah kepribadiannya. Dia tidak memaksa dan menekan lagi. Saat saya berusia 22 tahun, dia memberi kebebasan. Saya percaya bahwa tidak peduli bagaimana Anda melatih anak Anda, Anda harus memberi mereka cinta. Kadang ayah saya terlalu banyak mendorong, menekan dan memaksa saya, tetapi sesungguhnya karena dia mencintai saya.

Menurut Anda, mengapa ayah Anda begitu keras dalam  mendidik dan mengarahkan Anda?
Mungkin karena setiap orangtua memiliki keinginan dan tujuan yang jelas agar anaknya berhasil. Menjadi musisi adalah satu-satunya fokus orangtua saya. Ayah saya berhenti dari pekerjaannya sebagai polisi dan kami meninggalkan Shenyang untuk pergi ke Beijing agar saya bisa meneruskan belajar di Beijing Central Conservaty of Music. Ibu tetap tinggal di Shenyang mencari uang untuk biaya kami di Beijing. Saya berlatih 65%  dari waktu  saya setiap hari. Ayah dan saya selalu bertengkar tentang bagaimana memainkan ini atau itu. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan saya juga memiliki kepribadian cukup kuat, jadi sering ada bentrokan besar. Kadang dia memukul saya. Tidak keras sih, dia hanya mencoba menakut-nakuti saya. Dia sering berteriak keras. Dia mengatakan bahwa tekanan selalu berubah menjadi motivasi. Ayah menyadari bahwa jika dia gagal menjadikan saya luar biasa dalam bermain piano, saya tidak akan punya apa-apa. Tetapi ini cukup saya saja. Saya tidak ingin anak-anak berjuang seperti saya

Bagi sebagian seniman, orisinalitas pertama kali didahului oleh fase pembelajaran dan, seringkali meniru yang lain. Bagaimana dengan Anda sendiri?
Tentunya, pada awalnya kita harus dipengaruhi oleh musisi-musisi hebat di masa lalu. Secara pribadi, saya terinspirasi oleh Horowitz,  Arthur Rubinstein, dan banyak lainnya. Dan itu bukan hanya pianis. Saya juga dipengaruhi Leonard Bernstein, Karajan dan Pavarotti. Pada awalnya, kita perlu dihadapkan pada bagaimana membuat musik yang bagus. Kemudian, kita perlu mengetahui dan merasakan hubungan pribadi kita dengan musik. Kita perlu mempelajari sejarah, dan cerita dibalik musik. Kita harus mempelajari komposer, dan tahu bagaimana menganalisis score, untuk menemukan cara yang elegan dalam mendekati musik. Semua komposer itu berbeda. Mereka punya gaya masing-masing.  Apa pun itu, hati Anda harus ada di dalamnya.

Apa tantangan artistik Anda saat memulai sebagai seniman dan bagaimana perubahannya selama bertahun-tahun?
Jelas, ketika saya mulai, saya harus benar-benar fokus pada bagaimana memainkan nada dengan benar, dan memiliki kendali penuh atas keyboard. Tanpa itu sebagai dasar, Anda tidak dapat melakukan apapun, Anda bahkan tidak dapat menyelesaikan bagiannya. Kita harus realistis. Anda mulai dengan tangga nada C Major atau A Minor dan secara bertahap meningkatkan kemampuan Anda, mempelajari bagian-bagian kecil dan kemudian bagian yang lebih sulit. Tantangan artistik utama pada awalnya adalah, bagaimana membangun sebuah karya secara keseluruhan.

Bisakah Anda menjelaskan bagaimana proses kreatif sebagai pianis konser?
Menurut saya, sebagai pianis konser, kita tidak benar-benar menjadi kreatif dalam arti sebenarnya. Apa yang kita lakukan, pada dasarnya adalah memainkan ulang sebuah karya. Tapi saya selalu berusaha menemukan sudut pandang pada karya yang penting bagi saya, yang membangun hubungan antara musik dan momen dalam hidup saya saat ini. Saya juga mencoba mengembangkan program yang menarik. Katakanlah saya ingin memainkan Beethoven. Kemudian saya bisa menggabungkannya dengan Chopin. Atau menggabungkan Brahms dan Schumann. Atau melakukan sesuatu yang tidak klasik. Bekerja dengan band pop dan melihat karya mereka, misalnya. Atau berkolaborasi dengan seniman visual. Jadi saya mencoba berkreasi dengan cara berkolaborasi. Saya suka memvisualisasikan sesuatu saat saya bermain. Strategi saya adalah merasa membumi dulu, baru kemudian melambung tinggi.

Bagaimana Anda melihat hubungan antara improvisasi dan komposisi dalam hal ini?
Ini adalah hal yang sangat berbeda. Saat Anda bermain live, itu adalah pengalaman satu kali dan Anda hanya mendapatkan satu kesempatan. Anda bermain lebih banyak secara spontan dan kemudian Anda memiliki penonton di sekitar Anda - yang, bagi saya-, menciptakan suasana yang lebih baik. Saya sebenarnya lebih suka situasi langsung! Saat mengerjakan album, seperti Goldberg Variations atau sonata Beethoven, studio adalah tempat yang ideal. Tetap saja, tidak ada yang bisa mengalahkan konser. Jadi ketika saya membuat konsep rilis Goldberg, saya memutuskan menggabungkan studio dan interpretasi langsung. Saya suka berimprovisasi, tetapi seperti yang Anda ketahui dalam musik klasik, ini tidak terlalu umum. Diterima untuk berimprovisasi pada ornamen atau di cadenza. Tapi Anda tidak bisa benar-benar mengubah nada. Tapi kita memiliki kemungkinan untuk bermain berbeda. Ini seperti melihat objek yang sama, tetapi menggambarkan aspek jiwa yang berbeda. Anda harus memiliki setidaknya elemen improvisasi.

Indera pendengaran kita berbagi koneksi yang menarik dengan indra lain. Dari pengalaman Anda, apa yang paling menginspirasi antara indra-indra yang berbeda? 
Bagi saya, saat Anda membuat musik, Anda menggunakan semua panca indera Anda ditambah perasaan emosi spiritual. Saat Anda berada di atas panggung dan dalam proses membuat musik, Anda harus terbuka dengan semua indra Anda. Anda harus berpikiran terbuka, hati terbuka dan Anda juga perlu mencium nada. Anda perlu mendengar semuanya. Anda tidak boleh membiarkan emosi Anda menguasai segalanya. Batas kebebasan interpretasi dibatasi oleh satu kata: keseimbangan. Tanpa keseimbangan, emosi yang Anda butuhkan untuk membuat musik yang bagus, akan meluap.

Seperti apa instrumen pertama Anda dan bagaimana Anda berkembang ke instrumen saat ini?
Saya memiliki piano kecil pada awalnya, itu tidak terlalu bagus. Tapi saya masih menyukainya. Pada saat itu, kami tidak mampu membeli yang lebih mahal. Sekarang, tentu saja, saya memiliki piano Black Diamond Steinway saya sendiri. Saya harus memiliki piano dengan berbagai macam warna, kekuatan, suara, emosi, dan dinamika. Saya juga harus bisa bermain sangat legato. Piano saya adalah belahan jiwa saya. Piano yang bagus dapat memberi Anda perasaan khusus dan warna nada tertentu, dan itu membuat Anda menikmati setiap menit dalam latihan. Saya sudah lama mengagumi Horowitz, Rubinstein, dan banyak pianis Steinway hebat lainnya. Saya merasa saya berada dalam mimpi saya. "

Baiklah, terimakasih atas jawaban pertanyaan kami
Terimakasih juga. Sebuah wawancara yang menarik. (*)

Sumber: Majalah Staccato Edisi November 2020