STEINWAY FAMILY STORY 'Musik Itu Transparan, Tingkatkan Terus Kualitas'

ADDIE Muljadi Sumaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Addie MS selain salah satu pendiri Twilite Orchestra, juga dikenal sebagai Conductor Orkestra, Pianis, Pencipta Lagu, Arranger, dan juga Produser Musik. Bagaimana Addie MS membangun kariernya? Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Story.

Kapan mulai mengenal musik dan apa yang mendorong mas Addie bermusik?

Waktu kecil aku sering mendengar tante dan om memainkan lagu- lagu klasik dari Chopin, Beethoven dan lainnya. Aku juga suka melihat dan belajar buku partitur milik tanteku. Melihat antusiasku ke musik, di usia 12 tahun ibu membelikanku piano upright bekas punya tante karena tante mau pindah rumah keluar kota. Begitu senang punya piano, setiap sore aku naik sepeda pergi ke tetanggaku, orang Belanda Mrs. Rotti untuk belajar privat. Aku orang yang tidak sabaran dan mudah memberontak sejak kecil. Jadi saat belajar sesuatu dan ketika merasa sudah bisa maunya langsung loncat, naik tingkat, tidak mau disuruh ulang-ulang sampai mahir, yang penting sudah tahu dan bisa memainkannya hahaha…. Karena tidak puas dengan pembelajaran yang kurasakan lama, aku mulai belajar sendiri secara otodidak. Aku cari partitur sendiri ke Pasar Baru padahal saat itu mencari partitur dan buku musik klasik sangat sulit. Aku juga ikutan dengerin Radio El Shinta yang juga sering ibuku dengarkan yaitu siaran musik klasik, satu-satunya radio yang memutarkan musik klasik. Dan juga nonton penayangan NHK Orchestra di TVRI. Nah saat SMA aku ketemu dengan teman-teman yang juga bermain musik, salah satunya Ikang Fawzi. Aku mulai pindah ke musik pop. Tapi orangtua tidak mendukung, dan mengharapkan aku menjadi penerus beliau sebagai pengusaha pabrik ubin. Karena tidak didukung, aku memutuskan untuk mandiri, cari duit sendiri untuk biaya sekolah, beli buku-buku musik, dan kehidupan pribadiku. Jadi aku tinggal di rumah orangtua untuk tidur saja ibaratnya. Aku lakukan hal itu juga untuk adik-adikku karena aku 8 bersaudara, biarlah adik-adikku sekolahnya sampai tinggi. Dan itu terwujud, adik-adikku semua melalui pendidikan formal di universitas dalam dan luar negeri. Tiga tahun aku bisa tunjukan kemandirianku tanpa dukungan orangtua, sampai akhirnya orangtuaku luluh dan bisa menerima kenyataan bahwa anaknya bisa hidup di musik yang dicintainya, akhirnya dukungan dan restu orangtua didapat hahaha…

Bakat bermusik Mas Addie menurun dari sang kakek, Mohammad Soesilo yang juga perancang kota satelit Kebayoran Baru. Bagaimana pengaruh kakek terhadap Mas Addie?

Kakekku awalnya bekerja di perkebunan, sekitar tahun ‘30-an. Beliau lalu bertemu dan bekerja untuk Thomas Van Karsten, arsitek dan town planner. Kakekku adalah salah satu arsitek pertama di Indonesia bersama F. Silaban dan Liem Bwan Tjie, dan lainnya. Beliau hobi main biola, penggemar musik klasik, di sela kesibukannya beliau selalu memainkan biola dan itu ikut mempengaruhi aku dalam mengenal musik, tidak hanya mengenal piano tetapi juga biola yang semakin melengkapi kecintaanku akan musik klasik pada masa itu.

Bagaimana mas Addie meng-enrichment diri?

Hampir tiap tahun aku ke Amerika di tahun ‘80-an. Itu merupakan upaya aku belajar bermusikku secara otodidak, termasuk di dalamnya belajar orkestrasi, conducting, dan recording engineering dimana aku mengambil short course dengan mengikuti master class, nonton latihan dan penampilan orkestra seperti New York Philharmonic Orchestra, nonton musikal di Broadway, nonton opera di The Metropolitan Opera, beli buku, piringan hitam musik, mencari dan berkenalan dengan orang-orang dari industri musik, pokoknya aku curahkan passion-ku di musik secara total. Aku bisa lakukan hal itu karena yang kulakukan dalam bermusik sejak SMA menghasilkan uang. Aku bikin musik iklan dan kutabung, jika tidak punya uang pinjam tante tanpa orang tuaku tahu, ntar kalau sudah punya uang baru kukembalikan hahaha… pokoknya aku bener-bener jadi orang yang nekad dan tidak pikir panjang, hanya ikuti intuisiku aja. Aku sempat mengikuti Recording Engineering Workshop di Ohio tahun 1984 dan Conducting Workshop oleh American Symphony Orchestra League di Los Angeles tahun 1995, dibimbing Jorge Mester, konduktor Pasadena Symphony Orchestra dan Raymond Harvey, konduktor Fresno Philharmonic Orchestra.

Kapan mas Addie benar-benar berkarir di musik?

Tahun 1979. Sebagai arranger dan produser album rekaman penyanyi pop, dimulai dari pertemuanku dengan Vina Panduwinata yang aku nilai punya suara khas. Album Vina Panduwinata kubuat tahun 1982 dengan Orchestra dari Filipina dan rekamannya dilakukan juga di Filipina yang membuat aku tidak punya uang karena biaya proses produksinya di- ambil dari honor yang mestinya kudapat tapi kuberikan semuanya untuk proses pembuatan album Vina, sampai istriku, Memes, protes dianggap aku egois karena demi idealismeku, keluargaku sampai tidak punya uang sedangkan saat itu anakku si Kevin baru berumur 1 tahun. Alhamdulillah album Vina sukses besar, dan kehidupan rumah tanggaku pun aman hahaha...Kesuksesan album Vina berlanjut ke album-album lain seperti Utha Likumahuwa, Chrisye, Krisdayanti, hingga kolaborasi dengan musisi mancanegara, Suzanne Ciani, pianis dari Amerika yang meminta dibuatkan suatu orkestrasi yang akhirnya masuk sebagai salah satu Nominasi Grammy Award ke 38 sebagai The Best New Age Album.

Begitu banyak prestasi dan penghargaan yang Mas Addie dapatkan atas kerja kerasnya dalam bermusik, prestasi mana yang paling berkesan untuk Mas Addie?

Semua penghargaan bagiku berkesan karena itu semua suatu bentuk apresiasi untukku baik saat aku meraih 3 Golden Trophy BASF Awards sebagai penata musik terbaik, 2 Golden Records untuk album Vina Panduwinata dan 2 Silver Records untuk album Chrisye, semua terjadi dengan ceritanya masing-masing. Tetapi jika ditanya apa yang paling berkesan di perjalanan musikku, bukan di penghargaannya, tetapi saat tahun 1997 aku merekam ulang Indonesia Raya atas inisiatifku sendiri, dan dengan dukungan pengusaha Youk Tanzil. Proses perekaman ulang itu dilakukan di Australia bersama Victoria Philharmonic Orchestra saat aku membuat album rekaman Simfoni Negeriku, dimana untuk pertama kalinya lagu-lagu nasional dan perjuangan Indonesia diarasemen secara simfonik dan direkam dalam format CD dan Kaset. Upayaku merekam ulang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang sampai sekarang selalu diperdengarkan di- mana-mana, mungkin membuat aku kemudian dipercaya Markas Besar TNI untuk membuat Mars dan Hyme TNI, dan tahun 2003 mendapat Trophy dari Panglima TNI atas karyaku. Rasa bangga sebagai anak bangsa yang telah memberikan sumbangsihnya itulah yang kurasa lebih membanggakan dan mengesankan.

Mas Addie identik dengan Twilite Orchestra. Bagaimana ceritanya membentuk orkestra?

Musik orkes memang menjadi obsesiku sebagai musisi karena dengannya aku merasa mendapatkan medan eksplorasi musikal yang luas. Karena itu hampir semua musikku, aku selipkan orkestrasi di dalamnya. Tahun 1991, aku bertemu Oddie Agam dan Indra Usmansjah Bakrie, pengusaha yang kebetulan punya visi dan passion yang sama. Lalu kami mendirikan Twilite Orchestra, sebuah pops orchestra, yaitu orkestra simfoni yang tidak hanya memainkan musik klasik saja tetapi juga berbagai jenis musik, seperti drama musikal, musik pop dan tradisional yang diaransemen secara simfonik. Februari 1992, Twilite Orchestra sukses menggelar konser dengan David Foster di RCTI. Tahun 1998, melakukan misi edukasi melalui konser di berbagai sekolah dan universitas. Bersama “Sampoerna untuk Indonesia“ kami mengadakan konser tahunan untuk mahasiswa di Istora Senayan dan di beberapa universitas dengan nama Musicademia dari tahun 2000 hingga 2010. Aku juga mendirikan Twilite Youth Orchestra tahun 2004, sebuah orkes remaja yang tampil di sekolah dan di konser umum. Bersama Twilite Orchestra, Twilite Chorus yang didirikan tahun 1995 dan CIC Choir dan beberapa solis, kami konser di Sydney Opera House, yang merupakan konser orchestra simfoni Indonesia pertama di Concert Hall bergengsi tersebut. Tahun 2012 Twilite Orchestra juga menjadi orkes simfoni Indonesia pertama yang tampil di Eropa saat tampil di Bratislava, Slowakia dan Berlin, Jerman, atas prakarsa Kemenkraf RI, KBRI di Slowakia dan KBRI di Jerman dengan membawa 57 orang musisi dan 40 penyanyi Twilite Orchestra.

Sebagai musisi, pianis, dan juga konduktor, apa pendapat mas Addie tentang piano Steinway?

Bagiku piano itu mempermudah seseorang untuk belajar musik terutama tentang bagaimana mempelajari berbagai komposisi tertentu dan hal-hal baru, apalagi jika itu dimainkan dalam suatu orchestra. Aku mengenal piano Steinway saat bertemu dengan seorang pengusaha di Gang Pengangsaan di awal tahun 1980. Beliau memiliki piano Steinway. Saat aku memainkan dan mendengarkan suara yang dihasilkan piano Steinway aku langsung terkesan dengan suaranya yang megah dan penuh wibawa, aku mengapresiasi piano Steinway sebagai karya seni yang tinggi dan mempunyai karakteristik tersendiri. Dan di dalam suatu concert hall, suara Steinway yang megah ini terasa akan lebih megah saat dimainkan dalam suatu penampilan orchestra. Tak heran jika selalu ada piano Steinway di hampir semua gedung konser terkenal di dunia.

Apa pendapat Mas Addie terhadap musisi muda kita saat ini yang banyak lulusan dari universitas luar negeri?

Kualitas banyak musisi muda saat ini lebih baik dibanding yang sebelumnya, karena saat ini begitu mudahnya fasilitas yang mereka bisa dapat. Contohnya, piano-piano yang bagus bisa didapat dengan harga terjangkau, aplikasi tentang belajar partitur juga gampang diakses di internet, guru-guru juga banyak yang berkualitas dan mudah didapat karena semua bisa dicari dengan internet, sampai workshop-workshop pun bisa didapat dengan gampang, banyak dan bagus-bagus. Jaman sudah berkembang luas, apalagi di masa pandemik saat ini, semua orang dituntut untuk semuanya serba online via internet. Era digital mempermudah orang belajar dan mengembangkan diri, berkolaborasi dengan media sosial membuat orang ingin eksis dan tertantang mengembangkan diri. Siapa yang mau belajar dan berkembang, itu yang akan menang. Musik itu transparan. Bagus tidaknya seseorang bermain musik akan terlihat jelas, tidak bisa dibohongi. Untuk itu latihan dan fokus, merupakan kunci utama, bukan cuma branding atau hanya ingin dikenal tetapi tidak di- imbangi dengan kualitas yang baik, akhirnya akan tenggelam.

Apa kesan Mas Addie dengan perkembangan musik klasik di masa kini?

Aku merasa saat ini apresiasi masyarakat terhadap musik klasik lebih bagus. Pemusik-pemusik klasik selalu belajar dan melihat para pemusik klasik luar negeri sehingga mereka tertantang untuk berkembang, tidak mau kalah dengan musisi luar negeri.

Dari semua pagelaran orchestra yang mas Addie pernah lakukan, pagelaran mana yang dirasa paling berkesan?

Semua pagelaran dibuat dengan tingkat kesulitan yang berbeda- beda, dan yang paling sulit dan berkesan adalah saat Twilite Orchestra menggelar konser di Jakarta “Tribute to John Williams“ memainkan lagu-lagu John Williams di film Star Wars, Jurrasic Park, Superman, dan Harry Potter, dimana sangat sulit dimainkan, sekaligus menantang untuk dimainkan dengan baik. Pengalaman lain yang mengesankan adalah ketika Twilite konser di Konzerthaus Berlin, Gendarmenmarkt Berlin, Jerman. Di konser yang menandai 60 tahun hubungan diplomatik RI-Jerman itu, aku membawa rombongan yang cukup besar dari Indonesia. Bisa dibayangkan luar biasa ribetnya, mulai dari urusan transportasi, akomodasi, dan hal-hal lain di luar urusan musik. Suatu kebanggaan bagi Twilite Orchestra bisa menampilkan pagelaran dengan baik dan mendapatkan “standing ovation” dari para penonton. Bisa tampil di concert hall bersejarah itu berasa seperti orang yang baru lulus dari ujian, lega rasanya mendapatkan begitu baiknya apresiasi yang diberikan.

Bagaimana pandangan Mas Addie terhadap pandemi saat ini yang pasti berdampak kepada kehidupan para musisi?

Bagi saya pandemi ini ujian untuk survive bagi siapapun, survival untuk menghadapi tantangan hidup, bukan suatu kesialan atau musibah. Ini malah suatu tantangan untuk berpikir positif dan munculnya ide-ide kreatif. Lakukan apa saja dengan memperbanyak networking, memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk mengasah kemampuan diri dengan banyak berlatih, lihat referensi dan belajar banyak hal yang pada saat sebelum pandemik tidak sempat dilakukan. Jadi pada saat nanti kondisi sudah normal, tetap bisa terus berkarya karena kemampuannya tidak berkurang.

Baiklah mas Addie. Terimakasih atas bincang-bincangnya di forum ini.

Sama-sama. Salam untuk semua musisi Indonesia. (*)